Monday, June 6, 2011

Simfoni Jiwa

Langit malam itu tampak datar. Hanya lazuardi yang sempat memberi kesan megah. Tak seperti aku. Beberapa hari silam masih diselimuti kebekuan bak dijejalkan ribuan bongkah es kutub utara. Tetapi malam ini, firasat nol. Enyah tak tahu ke bagian bumi mana mereka menjelajah.

Penanda waktu mulai berarah 60 derajat dari angka genap posisi 3 ketika bintang-bintang bergelimang di hamparan angkasa raya. Sang tuan "X" yang mengganjalku seperti biasanya ada. Tapi....aku tegaskan sekali lagi, firasat = 0. Aku memang menaruh segelintir harapan. Layak tak berakal, aku kehilangan kontrolku. Bahkan ku percayainya hampir penuh, meski dia pendatang yang merambah pusat perhatianku dan cukup membuat gerak kerja pusat peredarah darah melebihi normal, sangat tidak lebih dari 14 malam dengan melewati kecepatan cahaya 3x10⁸ m/s.

7 Juni 2010, impian yang mendera isi kepalaku bukan hanya ilusi atau sekedar fatamorgana. Sejak itu, kurekatkan pundi-pundi sinyal naluriku untuk tetap bersamanya. Memang, aku tipikal orang yang sekejap menaruh percayanya, namun kaulku, aku ingin menggenggam jemari ini sampai nanti. Sampai akhir. Dan semoga tanpa akhir. Meski, ya... ini sepenuhnya tabir misteri, nihil yang tahu. 

Keyakinanku lambat laun terlunasi, satu kali revolusi bumi, 366 kali matahari dan bulan menampakkan sinarnya silih berganti. Aku masih menggenggam teguh jemaritangan ini. Jemari tangan seorang lelaki yang akan ku pertaruhkan apapun deminya. Dia......sosok terbaikku, menyingkirkan dan menghapus segenap torehan perih yang pernah singgah.

Tulisan ini mewakili kata hati yang secara nyata tak terungkap harfiahnya. Teruntukmu, Iman Sofwan Karta Mulya. A ku menulis ini dengan segenap perasaan yang mendalam dan kusimpan benar-benar rapih tanpa terhapus sedikitpun di sini mulai setahun lalu, di hati ini. Aku agaknya terus berharap, aku...kamu...kita...selamanya ^^




With Much of Love,


Tri Wulansari Adlina