Tuesday, September 6, 2011

Happy 15 months anniversary :')

Untukmu yang kucinta...
Harus sampai berapa kali aku katakan, aku sayang kamu
Tapi memang harus kukatakan lagi, lagi, dan lagi
Demi menunjukkan betapa besarnya sayangku itu
Sayang, maaf untuk semua kesalahan dan kekhilafan yang kulakukan padamu
Aku tau aku tidaklah sempurna
Aku hanya manusia yang diselimuti keterbatasan
Kadang aku sering membuatmu kesal, marah sampai semarah-marahnya
Aku juga tidak selalu ada saat kamu butuhkan
Tapi inilah keadaan kita
Jarak memengaruhi semuanya

Kalau saja aku bisa disampingmu saat kamu butuh, aku akan di sana tanpa ada penyangkalan
Sabar...
Aku mohon kamu sabar
Aku di sini juga menginginkanmu untuk ada di dekatku
Tapi aku sudah sadar sekarang
Lagi-lagi sabar, aku harus sabar, menahan egoku demi kita
Aku tidak ingin ada pertengkaran
Apalagi sampai membuat hubungan ini retak
Percayalah semua akan indah pada waktunya
Akan ada saatnya kita bersama
Aku percaya aku dan kamu bisa




















Setia....
Aku mohon kamu untuk tetap setia
Aku di sini juga menjaga hatiku dari yang lain
Menjaga hanya untuk kamu
Kesalahanmu yang lalu, biarlah aku coba mengikhlaskannya
Aku tak ingin ada lagi orang ketiga, pihak yg membuat segalanya hancur
Maaf aku terlalu banyak menuntut
Aku ingin hubungan kita berjalan untuk selamanya
Aku ingin kamu menjadi yg terakhir
Di awal 15 bulan ini aku harap kita semakin dewasa untuk menghadapi segalanya tanpa emosi
Aku selalu berharap yg terbaik untukmu
Selalu berdo'a kepadaNya untuk menjagamu, memberi kemudahan disetiap langkahmu
Aku ingin kamu bahagia, sayang
Dan semoga aku bisa menjadi slaah satu orang yg membuatmu bahagia
Aku sayang kamu, teramat sangat menyayangimu
 


Affectionally,

Tri Wulansari Adlina

Thursday, August 18, 2011

That's all just belong to you

"Pretending you dont exist & moving on with my life.. is much better than laying on my bed and crying over you"

"You begged me not to look for someone else, and i did not. i thought it was the right thing to do, but it breaks my heart to hear that you already have someone else while i was loving you"

"Face it is not equal to sad;Single is not equal to lonely;Get it is not equal to forever;Lost it is not equal to you will never get it;Don't because of lonely then lose your love;Don't because lose love then be lonely forever"

"I don't care if it's 5 minutes or a whole night.. I seriously just want to see you"

"I don't belive in fairytales, but i belive in you &me"

Lanjutan Novel

Ya...sederhana memang. Inilah kehidupan aku dan suamiku, Jigme. Suami yang paling aku sayangi. Walaupun kediaman kami sederhana, tetapi tidak akan sama halnya dengan perasaan kami satu sama lain. Tak terungkapkan dan tidak bisa aku lukiskan betapa besar rasa sayang itu. Sudah tujuh tahun lamanya kami menjalin hubungan spesial dan menautkan hati untuk saling berbagi. Tapi ini baru tahun kedua setelah pesta pernikahan yang indah itu. Kami belum juga dihadiahi momongan, padahal Jigme selalu berharap akan datangnya anggota baru dalam keluarga kecil kami.

Siang ini aku harus pergi ke pasar dan membeli sayur-mayur untuk makan malam nanti. Jigme sangat menyukai makanan ala Italia yang berbau pasta dan kaya akan rempah-rempah. Ada empat diantara banyak variasi yang paling ia sukai, seperti pizza, sphagetti, ravioli dan lasagna. Jigme bisa menghabiskan makanan-makanan ini seorang diri sampai perutnya yang kekar berubah menjadi sedikit buncit.

Aku sudah sampai di pertigaan menuju pasar. Cuaca Singapura tampaknya sedang bersahabat, tidak panas dan juga tidak turun hujan. Kala aku berjalan santai, aku melihat sesosok Jigme. Dalam hatipun aku bertanya, sedang apa dia di tempat ini, bergandengan sembari merangkul seorang perempuan dengan teramat mesranya. Perlahan tapi pasti, ku ikuti dia menuju ke arah sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan tepat dimana ia berdiri. Setengah meter dari tubuhnya, aku tarik tangan Jigme, suamiku itu menoleh ke arah pandanganku dan tanpa terencana entah setan apa yang sudah menguasai emosiku saat ini aku melayangkan tamparan keras di pipi kirinya. "Sedang apa kau di sini? Siapa dia?", tanyaku. Sesaat setelah bertanya, aku langsung saja pergi tanpa mendengar penjelasan Jigme, mungkin karena memang aku sudah muak tak tahan melihat kelakuannya yang busuk dengan bermain api di belakangku. Baru kali ini aku sangat sakit hati dengannya setelah seribu sembilan ratus dua puluh sembilan hari aku menapaki rentetan kehidupanku bersamanya, tapi ternyata hanya ini yang bisa benar-benar mematikan kepercayaan, rasa sayang dan kecintaanku padanya. Aku tidak sudi diperlakukan seperti ini. Ternyata rasa saling menjaga dan percayaku kini sudah tak berarti lagi. Jigme, maafkan aku yang tak pernah bisa melihat dirimu bahagia yang lain. Terima kasih Jigme untuk segala kenangan indah dan luka yang kau beri saat ini. Semoga kau bahagia bersanding dengannya. Aku tidak ingin kau menjadi bagian dari hidupku lagi. Selamat tinggal.

Monday, June 6, 2011

Simfoni Jiwa

Langit malam itu tampak datar. Hanya lazuardi yang sempat memberi kesan megah. Tak seperti aku. Beberapa hari silam masih diselimuti kebekuan bak dijejalkan ribuan bongkah es kutub utara. Tetapi malam ini, firasat nol. Enyah tak tahu ke bagian bumi mana mereka menjelajah.

Penanda waktu mulai berarah 60 derajat dari angka genap posisi 3 ketika bintang-bintang bergelimang di hamparan angkasa raya. Sang tuan "X" yang mengganjalku seperti biasanya ada. Tapi....aku tegaskan sekali lagi, firasat = 0. Aku memang menaruh segelintir harapan. Layak tak berakal, aku kehilangan kontrolku. Bahkan ku percayainya hampir penuh, meski dia pendatang yang merambah pusat perhatianku dan cukup membuat gerak kerja pusat peredarah darah melebihi normal, sangat tidak lebih dari 14 malam dengan melewati kecepatan cahaya 3x10⁸ m/s.

7 Juni 2010, impian yang mendera isi kepalaku bukan hanya ilusi atau sekedar fatamorgana. Sejak itu, kurekatkan pundi-pundi sinyal naluriku untuk tetap bersamanya. Memang, aku tipikal orang yang sekejap menaruh percayanya, namun kaulku, aku ingin menggenggam jemari ini sampai nanti. Sampai akhir. Dan semoga tanpa akhir. Meski, ya... ini sepenuhnya tabir misteri, nihil yang tahu. 

Keyakinanku lambat laun terlunasi, satu kali revolusi bumi, 366 kali matahari dan bulan menampakkan sinarnya silih berganti. Aku masih menggenggam teguh jemaritangan ini. Jemari tangan seorang lelaki yang akan ku pertaruhkan apapun deminya. Dia......sosok terbaikku, menyingkirkan dan menghapus segenap torehan perih yang pernah singgah.

Tulisan ini mewakili kata hati yang secara nyata tak terungkap harfiahnya. Teruntukmu, Iman Sofwan Karta Mulya. A ku menulis ini dengan segenap perasaan yang mendalam dan kusimpan benar-benar rapih tanpa terhapus sedikitpun di sini mulai setahun lalu, di hati ini. Aku agaknya terus berharap, aku...kamu...kita...selamanya ^^




With Much of Love,


Tri Wulansari Adlina