Ya...sederhana memang. Inilah kehidupan aku dan suamiku, Jigme. Suami yang paling aku sayangi. Walaupun kediaman kami sederhana, tetapi tidak akan sama halnya dengan perasaan kami satu sama lain. Tak terungkapkan dan tidak bisa aku lukiskan betapa besar rasa sayang itu. Sudah tujuh tahun lamanya kami menjalin hubungan spesial dan menautkan hati untuk saling berbagi. Tapi ini baru tahun kedua setelah pesta pernikahan yang indah itu. Kami belum juga dihadiahi momongan, padahal Jigme selalu berharap akan datangnya anggota baru dalam keluarga kecil kami.
Siang ini aku harus pergi ke pasar dan membeli sayur-mayur untuk makan malam nanti. Jigme sangat menyukai makanan ala Italia yang berbau pasta dan kaya akan rempah-rempah. Ada empat diantara banyak variasi yang paling ia sukai, seperti pizza, sphagetti, ravioli dan lasagna. Jigme bisa menghabiskan makanan-makanan ini seorang diri sampai perutnya yang kekar berubah menjadi sedikit buncit.
Aku sudah sampai di pertigaan menuju pasar. Cuaca Singapura tampaknya sedang bersahabat, tidak panas dan juga tidak turun hujan. Kala aku berjalan santai, aku melihat sesosok Jigme. Dalam hatipun aku bertanya, sedang apa dia di tempat ini, bergandengan sembari merangkul seorang perempuan dengan teramat mesranya. Perlahan tapi pasti, ku ikuti dia menuju ke arah sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan tepat dimana ia berdiri. Setengah meter dari tubuhnya, aku tarik tangan Jigme, suamiku itu menoleh ke arah pandanganku dan tanpa terencana entah setan apa yang sudah menguasai emosiku saat ini aku melayangkan tamparan keras di pipi kirinya. "Sedang apa kau di sini? Siapa dia?", tanyaku. Sesaat setelah bertanya, aku langsung saja pergi tanpa mendengar penjelasan Jigme, mungkin karena memang aku sudah muak tak tahan melihat kelakuannya yang busuk dengan bermain api di belakangku. Baru kali ini aku sangat sakit hati dengannya setelah seribu sembilan ratus dua puluh sembilan hari aku menapaki rentetan kehidupanku bersamanya, tapi ternyata hanya ini yang bisa benar-benar mematikan kepercayaan, rasa sayang dan kecintaanku padanya. Aku tidak sudi diperlakukan seperti ini. Ternyata rasa saling menjaga dan percayaku kini sudah tak berarti lagi. Jigme, maafkan aku yang tak pernah bisa melihat dirimu bahagia yang lain. Terima kasih Jigme untuk segala kenangan indah dan luka yang kau beri saat ini. Semoga kau bahagia bersanding dengannya. Aku tidak ingin kau menjadi bagian dari hidupku lagi. Selamat tinggal.